Deforestasi Capai 16 Ribu Hektare, Forum Konservasi Desak Latimojong Jadi Taman Nasional

Uncategorized58 Dilihat

Jalurtengah.com, LUWU — Yayasan Lestari Alam Kabupaten Luwu menggagas kegiatan Diskusi dan Seruan Konservasi Pegunungan Latimojong sebagai upaya menjaga keanekaragaman hayati dan melestarikan alam, yang dilaksanakan pada Jumat (8/5/2026).

>

Kegiatan ini menjadi wadah mempertemukan akademisi, pemerintah, pegiat lingkungan, kelompok masyarakat hingga media untuk bersama-sama membangun kesadaran pentingnya menjaga Pegunungan Latimojong sebagai salah satu kawasan strategis di Sulawesi Selatan.

Ketua Yayasan Lestari Alam Kabupaten Luwu, Ismail Ishak, mengatakan kegiatan tersebut merupakan langkah awal membangun kolaborasi lintas sektor dalam mendukung upaya konservasi Pegunungan Latimojong.

“Latimojong memiliki fungsi yang sangat penting, bukan hanya bagi Kabupaten Luwu tetapi juga untuk Sulawesi Selatan secara keseluruhan. Karena itu, upaya menjaga dan melestarikan kawasan ini membutuhkan dukungan semua pihak,” ujarnya.

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang. Dari kalangan akademisi hadir Dr. Abdurahman Nur Presidium Dewan Kehutanan Nasional [DKN], serta Dr. Hadija Azis Karim, S.Hut., M.Hut dari Fakultas Kehutanan Unanda. Sementara dari unsur konservasi dan kehutanan hadir Muh. Idham Aliem, S.Hut., M.Si dari BKSDA Sulawesi Selatan dan Kepala KPH Latimojong Hasrul, S.Hut., M.Si.

Kegiatan tersebut juga diikuti peserta dari OPD lingkup Pemerintah Kabupaten Luwu, kelompok tani hutan pemegang izin perhutanan sosial, kepala desa di sekitar kawasan hutan, komunitas pecinta alam, lembaga swadaya masyarakat hingga insan media.

Mewakili Bupati Luwu, Kepala Bapelitbangda Kabupaten Luwu Muh. Arsal, M.Si., MM membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi atas inisiatif Yayasan Lestari Alam dalam menghadirkan forum diskusi yang dinilai penting untuk masa depan lingkungan dan sumber daya alam di wilayah Luwu Raya.

Dalam diskusi yang berlangsung hingga menjelang magrib, peserta membahas berbagai persoalan terkait kondisi Pegunungan Latimojong, mulai dari ancaman deforestasi, fungsi hidrologi, kekayaan biodiversitas hingga potensi pengembangan wisata alam berkelanjutan.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam forum, kawasan Pegunungan Latimojong mengalami deforestasi sekitar 16 ribu hektare sepanjang tahun 2010 hingga 2024. Angka tersebut diperkirakan dapat meningkat menjadi 25 ribu hektare pada tahun 2035 apabila tidak dilakukan langkah pengendalian dan konservasi secara serius.

Pegunungan Latimojong juga memiliki peran penting sebagai kawasan penyangga sumber air bagi sembilan daerah aliran sungai (DAS) yang menopang sektor pertanian di Kabupaten Luwu, Sidrap, Wajo dan Pinrang. Bahkan, kawasan ini disebut mendukung sekitar 41 persen produksi padi Sulawesi Selatan.

Selain itu, Latimojong dikenal kaya akan keanekaragaman hayati dengan sekitar 407 spesies flora dan fauna, di mana sekitar 60 persen merupakan spesies endemik Sulawesi seperti Julang Sulawesi, tarsius, rusa dan anoa.

Tak hanya memiliki nilai ekologis, Pegunungan Latimojong juga menyimpan potensi wisata alam yang besar.

Kawasan ini menjadi salah satu tujuan pendakian nasional dan termasuk dalam jajaran tujuh puncak tertinggi di Indonesia.

Melalui forum diskusi tersebut, peserta akhirnya menyepakati dukungan terhadap pengusulan Pegunungan Latimojong sebagai Taman Nasional.

Dukungan itu disampaikan dalam konferensi pers sebagai bentuk komitmen bersama menjaga kelestarian kawasan hutan demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum memperkuat sinergi antara pemerintah, masyarakat dan berbagai elemen lainnya dalam menjaga Pegunungan Latimojong sebagai warisan alam yang memiliki nilai penting bagi generasi masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *