Tak Mampu Pasang Listrik, Keluarga di Luwu Ini Andalkan Pelita dan Aki Motor untuk Penerangan

Berita, Daerah123 Dilihat

JALURTENGAH.COM, LUWU – Matahari mulai tenggelam di balik perbukitan Desa Tanjong, Kecamatan Bua Ponrang (Bupon), Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Satu per satu rumah warga mulai diterangi lampu listrik. Namun, pemandangan berbeda terlihat di sebuah bangunan kecil di ujung jalan tani di Dusun Minanga Tallu.

Tak ada lampu yang menyala. Tak ada aliran listrik yang menerangi malam. Yang terlihat hanya cahaya redup dari sebuah pelita minyak tanah yang diletakkan di sudut ruangan.

Di rumah sederhana itulah Mursalim (45), istrinya Yeni (48), dan putra mereka Muhammad Ghibran (7) menjalani kehidupan setiap hari.

Bangunan yang mereka tempati bukanlah rumah yang dibangun untuk keluarga. Dahulu tempat itu merupakan dapur untuk memasak nira menjadi gula aren. Kini, bangunan tersebut menjadi tempat mereka berteduh.

Luasnya hanya sekitar 3 x 4 meter. Di ruangan sempit itu tidak ada kamar tidur. Tidak ada ruang tamu. Tidak ada dapur terpisah. Semua menyatu dalam satu ruangan.

Tempat tidur berdampingan dengan kompor. Pakaian bergantung di dinding papan yang mulai lapuk. Peralatan memasak disusun seadanya di sudut ruangan. Lantai semen yang mulai rusak ditutupi perlak bekas agar lebih nyaman dipijak.

Di rumah itulah Ghibran tumbuh.
Bocah berusia tujuh tahun itu baru saja masuk sekolah dasar. Setiap pulang sekolah, ia kembali ke rumah yang setiap malam hanya diterangi cahaya pelita.
Jika minyak tanah habis, keluarganya harus mencari cara lain.

“Kalau aki motor masih ada setrumnya kami pakai lampu dari aki. Kalau sudah habis, ya pakai pelita. Kalau minyak tanah juga habis, kadang menyalakan unggun di dekat rumah atau langsung tidur. Pernah juga diberi lilin sama tetangga,” tutur Mursalim.

Untuk membeli minyak tanah, ia harus pergi ke Pasar Padang Sappa. Harga satu botol kecil sekitar Rp15.000 dan harus dihemat agar cukup selama seminggu.
Setiap hari Mursalim bekerja sebagai petani sekaligus buruh tani.

Ia menanam cabai dan nilam di lahan kecil miliknya. Ketika ada panggilan bekerja di kebun milik warga, ia menjadi buruh tani.

Pendapatan yang diterimanya jauh dari cukup. Dalam setahun, penghasilannya sebagai buruh tani rata-rata hanya sekitar Rp4 juta.

Penghasilan itu digunakan untuk memenuhi kebutuhan makan, membeli perlengkapan sekolah anak, hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
Keinginan memperbaiki rumah atau memasang listrik masih menjadi mimpi yang sulit diwujudkan.

Cobaan keluarga itu tak berhenti di sana.
Suatu ketika, Yeni mengalami sakit hingga tidak mampu berjalan.
Mursalim ingin membawa istrinya ke rumah sakit. Namun, biaya menjadi penghalang.

“Pernah istri saya sakit sampai tidak bisa jalan. Mau dibawa ke rumah sakit, tapi saya pikir kondisi keuangan tidak memungkinkan. Akhirnya dirawat di rumah saja dan saya belikan obat seadanya,” katanya.

Keluarga itu juga belum memiliki BPJS Kesehatan aktif. Saat masih tinggal di Kalimantan mereka pernah menjadi peserta BPJS Kesehatan mandiri. Namun, karena tidak lagi mampu membayar iuran, kepesertaan tersebut berhenti.
Kini Mursalim berharap dapat dialihkan menjadi peserta BPJS Kesehatan yang iurannya ditanggung pemerintah daerah.

Di tengah keterbatasan itu, Mursalim tidak banyak menuntut. Ia hanya berharap keluarganya dapat hidup sedikit lebih layak.

“Harapan kami mudah-mudahan pemerintah bisa memahami kondisi kami seperti ini,” ucapnya lirih.

Meski rumahnya sederhana, Mursalim mengaku tetap bersyukur karena hingga kini bangunan itu belum pernah kebanjiran saat hujan deras mengguyur.

“Kalau takut tentu ada. Tapi mau bagaimana lagi. Syukur sampai sekarang belum pernah kemasukan air,” katanya.

Kisah keluarga Mursalim menjadi gambaran bahwa di tengah berbagai kemajuan pembangunan, masih ada keluarga yang menjalani hidup dengan segala keterbatasan.

Di rumah bekas dapur gula aren itu, cahaya pelita bukan sekadar penerang malam. Cahaya itu juga menjadi saksi perjuangan dua orang tua yang bekerja tanpa lelah demi masa depan anak semata wayang mereka.

Harapan mereka sederhana: memiliki rumah yang lebih layak, menikmati listrik seperti warga lainnya, memperoleh akses layanan kesehatan, dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi Ghibran.

Bagi keluarga kecil ini, perhatian dan uluran tangan dari pemerintah, komunitas, dunia usaha, maupun masyarakat yang tergerak membantu dapat menjadi titik awal perubahan.

Bantuan itu bukan hanya memperbaiki kondisi tempat tinggal mereka, tetapi juga menjaga harapan seorang anak yang baru memulai langkahnya mengejar cita-cita.