MBG Buka Peluang Ekonomi Baru bagi Petani Lokal di Bupon

Berita, Daerah620 Dilihat

JALURTENGAH.COM, LUWU – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) membuka peluang ekonomi bagi petani lokal di Kabupaten Luwu. Melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Noling yang dinaungi  yayasan malommo dalle, petani di Kecamatan Bupon didorong untuk membudidayakan sayur dan buah yang dibutuhkan dapur MBG.

Ajakan itu disampaikan mitra SPPG Noling, Asran Salam, saat menghadiri Rapat Koordinasi MBG bersama pemerintah kecamatan, Puskesmas Noling, Babinsa, Bhabinkamtibmas, kepala desa, serta sejumlah tokoh masyarakat di Kecamatan Bupon, Kamis (21/5/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Asran menjelaskan kebutuhan bahan pangan untuk program MBG di sejumlah SPPG di Kabupaten Luwu hingga kini masih banyak dipasok dari luar daerah. Menurutnya, kondisi itu seharusnya bisa menjadi peluang bagi petani lokal untuk ikut mengambil peran sebagai pemasok kebutuhan pangan.

Ia menyebut, kebutuhan sayur dan buah untuk dapur MBG berlangsung setiap hari, sehingga membuka pasar yang cukup menjanjikan bagi masyarakat yang ingin mulai menanam komoditas pangan.

“Kenapa petani ta’ di Bupon ini tidak mulai tanam sayur sama buah? Kebutuhan di dapur MBG tiap hari ada terus. Jangan ki takut soal pasar, kalau hasilnya bagus dan sesuai kebutuhan, pasti kami ambil,” ujar Asran.

Salah satu komoditas yang disebut paling sering mengalami kelangkaan ialah buah semangka. Menurut Asran, permintaan buah tersebut cukup tinggi karena kerap menjadi bagian dari menu makanan bergizi di sejumlah SPPG di Luwu.

Kondisi itu, kata dia, menjadi peluang besar bagi petani lokal untuk mulai membudidayakan semangka secara lebih serius. Selain memiliki nilai jual yang baik, hasil panen petani juga dinilai lebih mudah terserap karena kebutuhan pasar sudah tersedia melalui program MBG.

“Kadang semangka ini susah sekali dicari saat dibutuhkan. Jadi sebenarnya peluangnya besar untuk masyarakat Bupon kalau mau mulai menanam dari sekarang,” katanya.

Tak hanya semangka, beberapa jenis sayuran juga dinilai memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan masyarakat. Salah satunya ialah selada yang cukup sering digunakan sebagai menu pendamping makanan bergizi di sejumlah SPPG.

Asran menjelaskan, tanaman selada tidak harus dibudidayakan di lahan luas. Warga bahkan bisa memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sayuran tersebut karena masa panennya relatif cepat dan perawatannya tidak terlalu sulit.

“Selada ini bisa juga ditanam di pekarangan rumah. Masyarakat sebenarnya punya peluang mendapatkan tambahan penghasilan dari kebutuhan MBG ini,” lanjutnya.

Ia mengatakan pasar hasil pertanian masyarakat tidak perlu diragukan lagi. Sebab, keberadaan sejumlah SPPG di Kabupaten Luwu memiliki kebutuhan bahan pangan terus meningkat dan membutuhkan pasokan yang stabil setiap harinya.

Melalui rapat koordinasi tersebut, SPPG Noling berharap keterlibatan petani lokal dalam menyuplai kebutuhan MBG dapat terus meningkat. Selain membantu pemenuhan gizi anak sekolah, langkah itu juga diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat desa melalui sektor pertanian lokal. (*)